Ecohealth: Pendekatan Istimewa untuk Keseimbangan Bersama

Print
PDF

Oleh: M.D. Winda Widyastuti

Saya menganggap konsep ‘ecohealth’ adalah suatu hal sederhana pada mulanya, yaitu bagaimana mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat tanpa melupakan lingkungan di sekitar kita.  Namun ternyata konsep ini tidak sesederhana itu, dibutuhkan cara pandang khusus untuk bisa memahaminya dan pendekatan tertentu dalam  mengimplementasikannya.  

Cara pandang khusus ini menuntut kita untuk rela sejenak meninggalkan diri kita dan memandang konsep ini dari luar. Sesungguhnya konsep tersebut menyatakan ada keterkaitan yang sungguh erat antara berbagai unsur yang membentuk ekosistem, dimana manusia-hewan-tumbuhan, agen penyakit dan lingkungan menjadi bagian di dalamnya. Juga dinyatakan bahwa banyak faktor lain di luar ekosistem itu sendiri yang berperan dan berpengaruh terhadap keterkaitan tersebut. Faktor-faktor itu antara lain kerjasama multidisiplin dan lintas sektoral, kondisi sosio-ekonomi dan budaya masyarakat, faktor alam dan infrastruktur, maupun kebijakan pendukung.

Pendukung konsep ‘one health’

Konsep ecohealth sebenarnya adalah konsep lama yang kembali didengungkan dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir ini. Konsep ini dianggap sejalan dengan konsep ‘one health’ yang juga dimunculkan belakangan ini, akan tetapi konsep ecohealth dikatakan memperluas konsep one health.  Profesi kedokteran hewan, kedokteran manusia dan kesehatan masyarakat dikatakan adalah pilar konsep one health, sedangkan konsep ecohealth lebih bersifat mulitidisiplin dimana ilmu-ilmu lain ikut dilibatkan seperti lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya.

Kedua konsep tersebut jelas telah terbukti berhasil dalam penanganan berbagai penyakit zoonosis di dunia, meskipun dalam tataran operasional banyak sekali kendala yang dihadapi dan tidak semudah yang dibayangkan.  

Konsep one health diterapkan di Indonesia terutama dalam penanganan penyakit avian influenza (AI). Upaya penanganan dilakukan dengan melibatkan peran lintas sektoral termasuk di dalamnya profesi kedokteran hewan dan kedokteran manusia. Pada kenyataannya dalam penanganan AI di lapangan dijumpai banyak kendala dan tantangan yang sifatnya multi faset, sehingga selain dari dua profesi utama tersebut disadari bahwa berbagai keilmuan lain juga sangat diperlukan seperti ahli komunikasi, ahli kesehatan masyarakat, ahli ekonomi peternakan, ahli sosiologi, ahli perencanaan dan lain sebagainya.  

Peran dokter hewan

Meskipun “banyak jalan menuju Roma”, akan tetapi sebagai seorang dokter hewan, saya berpendapat bahwa pendekatan ecohealth merupakan jalan yang paling baik untuk membawa profesi ini dalam mewujudkan cita-citanya yaitu kesehatan hewan untuk kesejahteraan manusia (manusya mriga satwa sewaka).  

Dengan kompetensi yang dimiliki seorang dokter hewan, maka dia harus bisa mengidentifikasi suatu kondisi tidak seimbang yang terjadi di masyarakat dan lingkungan sekitarnya yang disebabkan oleh suatu penyakit yang bersumber dari hewan dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Tujuan akhirnya bukan semata bagaimana menangani atau memulihkan kondisi tersebut, melainkan bagaimana mencegah agar kondisi serupa tidak terjadi tanpa melupakan faktor lain di luar kondisi tersebut baik yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung.  

Oleh karenanya dalam konsep ecohealth, seorang dokter hewan dituntut untuk tidak mengistimewakan dirinya sebagai satu-satunya orang atau profesi yang paling mengerti dan mampu menyelesaikan permasalahan.  Seringkali tujuan akhir tidak tercapai, oleh karena dokter hewan kurang memperhatikan aspek atau faktor lain yang sebenarnya terkait erat dengan permasalahan tersebut seperti kondisi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat atau kondisi alam dan lingkungan sekitar.  

Kerjasama berbagai bidang disiplin ilmu wajib diterapkan untuk saling mendukung dalam menemukan jalan keluar terbaik.  Tentunya, masing-masing pihak mempunyai peran yang sama pentingnya sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.   

Seperti misalnya dalam pengendalian penyakit anthrax, selain diperlukan keahlian dokter hewan yang mengerti tentang agen penyebab anthrax dan bagaimana cara menanggulangi penyakit tersebut, diperlukan juga kompetensi ahli tanah untuk mempelajari struktur tanah di lingkungan tertular. Di samping itu diperlukan juga ahli sosial untuk mengetahui seberapa jauh sebenarnya masyarakat merasakan ketidakseimbangan sosial yang terjadi akibat pengaruh kejadian anthrax di lingkungan sekitarnya. Begitu juga ahli ekonomi veteriner untuk mengetahui seberapa besar kerugian yang ditanggung masyarakat karena penyakit tersebut, meskipun dalam skala kerugian yang paling kecil sekalipun. Begitu juga keahlian-keahlian lain yang dibutuhkan untuk mendukung pencarian solusi masalah.

Berbasis masyarakat

Implementasi konsep ecohealth memang seharusnyalah digali, dibangun, dikembangkan dan diwujudkan dengan berbasis pada masyarakat. Dengan masyarakat ikut berperan dari awal dalam mengidentifikasi masalah, maka mereka akan merasakan bahwa itu adalah masalah mereka dan keinginan untuk mencari solusi juga muncul dari diri mereka sendiri.

Pakar atau ilmuwan termasuk dokter hewan diharapkan berperan sebagai fasilitator atau konsultan pada saat program dijalankan.  Kecuali untuk melakukan kewenangan medis, profesi dokter hewan atau dokter manusia tetap menjadi yang terdepan.  

Dengan demikian dalam konsep ecohealth, masyarakat yang semula adalah obyek dari suatu kejadian penyakit zoonosis, pada akhirnya akan menjadi subyek yang melaksanakan pengendalian penyakit tersebut dengan dukungan dan fasilitasi dari para pakar atau ilmuwan.   

Pendekatan berbasis masyarakat sudah sangat umum digunakan oleh para pemerhati lingkungan.  Konflik pemanfaatan lahan atau pengolahan sumber daya alam yang tidak benar yang berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan biasanya dilakukan oleh masyarakat dengan alasan ekonomi.  Oleh karenanya pendekatan dilakukan dengan cara menggugah masyarakat untuk mencari solusi alternatif atau membimbing masyarakat dalam pemanfaatan lahan atau sumber daya alam dengan benar, sehingga mendatangkan keuntungan secara ekonomi akan tetapi di satu sisi proses pelestarian alam tetap terjaga.

Pendekatan berbasis masyarakat dalam pengendalian penyakit zoonosis tidaklah semudah dan sesederhana yang kita bayangkan.  Tahapannya tetap sama yaitu dengan melibatkan masyarakat dari awal, mulai dari identifikasi masalah hingga pelaksanaan program untuk menyelesaikan masalah tersebut. Akan tetapi yang lebih jelas diperlukan adalah memberikan bukti nyata kepada masyarakat bahwa pengaruh penanganan satu faktor saja dari suatu penyakit zoonosis akan memberikan dampak yang menguntungkan buat mereka.   

Pada umumnya masyarakat selalu memperhitungkan untung-rugi secara ekonomi dari suatu masalah dan karenanya pendekatan ekonomi veteriner dapat digunakan juga sebagai satu pendekatan yang berguna dalam penanganan penyakit zoonosis.  

Sejumlah penyakit zoonosis memiliki dampak ekonomi secara global, sehingga kerugian ekonomi dirasakan secara nyata, misalnya avian influenza yang melumpuhkan sektor peternakan hampir di seluruh negara tertular. Sejumlah penyakit zoonosis lainnya meskipun tidak berdampak global, akan tetapi cukup menimbulkan kerugian ekonomi cukup besar di banyak negara terutama bagi peternak, seperti penyakit anthrax yang menyebabkan kematian ternak kerbau dalam jumlah besar atau penyakit brucellosis yang menyebabkan gangguan pertumbuhan populasi ternak sapi.   

Bagaimana halnya dengan penyakit zoonosis lain yang dampak ekonominya tidak terlalu nyata, akan tetapi sesungguhnya cukup menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan masyarakat? Penyakit salmonellosis misalnya, mungkin hanya menyebabkan diare yang bisa saja dianggap hal biasa bagi masyarakat, akan tetapi kerugian ekonomi akibat biaya pengobatan yang harus dikeluarkan dan kehilangan waktu kerja tidak bisa diabaikan begitu saja. Sama halnya juga dengan penyakit anthrax tipe kulit dimana masyarakat seringkali merasa tidak perlu khawatir karena dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotika atau penyakit rabies yang dampak nyatanya hanya dirasakan oleh keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh korban yang meninggal dunia.

Indonesia dan konsep ecohealth

Menurut pendapat saya, Indonesia dengan keragaman topografi, mikroorganisme, kekayaan alam terutama flora dan faunanya serta keragaman budaya masyarakatnya merupakan sasaran tepat untuk penerapan konsep ecohealth. Dengan berbagai kompetensi keahlian yang dimiliki oleh ilmuwan Indonesia, maka pencapaian tujuan akhir melalui konsep ecohealth bukanlah hal mustahil untuk dilakukan.  

Pemerintah Indonesia sendiri sudah menyepakati untuk ikut serta aktif mengkampanyekan dan melaksanakan konsep ecohealth bersama lima negara lain  di wilayah Asia Tenggara yaitu Vietnam, Laos, Kambodia, Thailand dan China.  Kesepakatan tersebut telah dinyatakan dalam rapat APEIR (Asian Partnership Emerging Infectious Disease Research) di Khunming, China pada awal Januari 2010.  

Selanjutnya, apakah kesepakatan tersebut akan ditindaklanjuti dalam bentuk kegiatan nyata?  Jawabannya ada pada kita sendiri, terutama sebagai pribadi dokter hewan yang mempunyai tanggung jawab moril untuk peduli dan berperan serta dalam pemberantasan penyakit zoonosis untuk turut membangun rasa aman dan sejahtera dalam diri masyarakat. ***

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday33
mod_vvisit_counterYesterday17
mod_vvisit_counterThis week33
mod_vvisit_counterLast week165
mod_vvisit_counterThis month127
mod_vvisit_counterLast month674
mod_vvisit_counterAll days3628

We have: 29 guests online
Your IP: 38.107.191.96
 , 
Today: Sep 05, 2010

Link

Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies