Vaksin Oral Rabies

Print
PDF

Rasanya sebagai individu penyandang profesi dokter hewan, saya ikutan resah mengikuti geliat pemberantasan rabies di Bali yang tak kunjung usai. Target pernah dibuat untuk membuat Bali kembali bebas, tapi apa daya belum berhasil.

Artikel "Jakarta Post" Februari 2009 tentang wawancara harian berbahasa Inggris ini dengan Dr Soeharsono, seorang praktisi hewan kecil di Bali -- "Soeharsono: When smuggling becomes a public health issue" -- dan begitu juga presentasi Dr Anak Agung Gde Putra, seorang ahli epidemiologi veteriner di ajang konferensi ilmiah di Australia -- "Outbreak of Rabies in Bali: Epidemiological Aspects", keduanya menyinggung soal penggunaan 'vaksin oral' (oral vaccine).

Sejawat Soeharsono mengatakan: "The best solution to rabies throughout Indonesia is the oral vaccine", sedangkan Agung menyimpulkan dalam presentasinya meskipun masih sedikit tidak pasti: "Difficult vaccination program: Need long acting single parenteral rabies vaccine or oral vaccine?".

Berdasarkan ke-dua tulisan tersebut, saya menyarankan untuk kita sebagai profesi untuk mengkaji kembali strategi pemberantasan rabies dengan mulai memikirkan kemungkinan melakukan terobosan penggunaan vaksin oral untuk mengatasi masalah rabies khususnya di Bali. Tentu saran ini harus dibarengi dengan terlebih dahulu mempelajari aplikasinya yang efektif di lapangan, termasuk komunikasi risikonya.

Strategi pengendalian rabies yang sejak dahulu diterapkan dengan metoda 'local area specific' (LAS) dengan pola vaksinasi suntik (parenteral) jelas dan gamblang masih relevan sampai dengan saat ini. Nyatanya dengan strategi LAS dan vaksin yang selalu sama (mayoritas produksi Pusat Veterinaria Farma Surabaya) ditambah eliminasi anjing tak berpemilik, bisa dicapai keberhasilan dengan diraihnya status bebas untuk Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Yogyakarta dan masih bertahan sampai sekarang. Begitu juga di Kalimantan Barat, dengan strategi yang sama penanganan wabah berlangsung cepat.

Kerja keras, pengorbanan, kesungguhan semangat dan dedikasi yang tinggi disamping tentunya penguasaan teknis lapangan yang memadai telah membuktikan rabies di pulau Ambon, Buru dan Halmahera Utara bisa dikendalikan (meskipun belum bisa dikatakan bebas kembali).

Meskipun demikian cerita yang berbeda terjadi dengan penanganan wabah rabies di Flores. Sejak awal, pro kontra kebijakan awal berupa "pemusnahan anjing menyeluruh" membuat persoalan semakin kompleks. Kekurangpahaman tentang "dog ecology" dan anthropologi budaya di Flores membuat penerapan kebijakan vaksinasi yang diperbolehkan setelah itu, belum juga mampu mengatasi penularan, selain juga faktor dana dan daya yang terbatas. Memprihatinkan bahwa setelah lebih dari 12 tahun rabies masih berjangkit di Flores.

Begitu juga belum tertanganinya rabies di daerah padat anjing seperti Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sukabumi dlsbnya. Pasti ada faktor-faktor yang berperan, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi yang sama tidak selalu menghasilkan output yang sama antar satu daerah dengan lainnya.

Begitu Bali diserang rabies (banyak teman-teman sejawat sejak lama memprediksi ini bakalan terjadi), strategi yang sama digunakan kembali. Akan tetapi kenapa di Bali tidak berhasil juga?

Bali cuma pulau kecil membentang dari utara ke selatan sepanjang 75 km dan dari timur ke barat sepanjang 142 km dengan penduduk sekitar 3,5 juta. Akan tetapi Bali menjadi tempat tinggal 600 ribu ekor anjing jalanan (data ini tidak pernah sama, dari berbagai sumber berkisar antara 500 s/d 800 ribu). Seperti halnya di Flores, peran anjing sangat penting dalam mitologi dan ritual kehidupan masyarakat Hindu Bali. Rasio anjing : manusia = 1 : 8,27 atau kepadatan 96 ekor per km2. Tidak heran kalau kita sudah menonton film dokumenter tentang Bali "Island of the Dogs", jadi Bali bukan hanya dikenal sebagai "The Island of Paradise".

Mulanya pada bulan November 2008, rabies hanya terfokus di areal Bukit Peninsula (terjadi di Kuta Selatan, Badung), akan tetapi kasus sudah menjalar ke Tabanan pada bulan September 2009. Laporan Dinas Kesehatan tentang kasus gigitan anjing sebanyak 14.700 orang di Bali sejak awal rabies muncul, seharusnya sudah memberikan "lampu merah" bagi pemerintah pusat dan provinsi Bali bahwa kewaspadaan harus ditunjukkan semua pihak.

Banyak faktor yang membuat kecepatan program vaksinasi tidak mampu mengejar penjalaran penyakit. Data Direktorat Kesehatan Hewan yang dilaporkan ke OIE dengan konsentrasi vaksinasi di 3 kabupaten Badung, Tabanan dan Kediri (bandingkan dengan populasi anjing yang peka dengan cakupan vaksinasi sekitar 30-40% saja atau mungkin lebih rendah dari itu) menunjukkan kecepatan vaksinasi sebagai berikut:

- 18 Des 2008 jumlah anjing yang divaksin 734 ekor;

- 26 Jan 2009 jumlah anjing yang divaksin 13,954 ekor;

- 10 Mar 2009 jumlah anjing yang divaksin 37.074 ekor dan kucing 916 ekor; dan

- sampai dengan 7 Okt 2009 jumlah anjing yang divaksin 70.371 ekor dan kucing 916 ekor.


Kendala vaksinasi menurut Ngurah Mahardika di Bali Post Oktober 2009 disebutkan bahwa partisipasi dan pengetahuan masyarakat kurang memadai, mobilisasi tenaga dan dana yang minim. Disamping sulitnya eliminasi anjing dengan strychnine yang ditentang berbagai LSM dalam dan luar negeri.

Bisa dibayangkan bagaimana LSM-LSM tersebut melakukan kampanye di lapangan maupun juga melalui berbagai blog di internet. Sebut saja seperti:

- Born Free dengan kampanye "Stop the inhumane cull dog in Bali".

- WSPA Australia & New Zealand dengan kampanye "Urgent Action: Save Bali's dog".

- Animal Right dengan kampanye "Bali dogs are dying. Please stop the killing".

- Animal Asia Foundation: "Sign the petition to Governor of Bali against unnecessary killing".

- Bali Animal Welfare Association (BAWA): "Save Bali dogs. Help eliminate the cruel treatment of animals in Indonesia".

Begitu juga dua buah facebook berjudul "Save the dogs of Bali, Indonesia" dan "Save's Bali dogs. Stop of this cruel form of culling". Tentu kita tidak hanya menutup mata dan telinga. Kenapa banyak masyarakat terutama internasional yang protes, karena Bali memang tujuan wisata asing yang paling populer dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Kalaupun saya menyarankan vaksin oral untuk rabies Bali, bukan berarti bahwa parenteral untuk anjing rumahan dan mudah disupervisi, harus ditinggalkan. Dari literatur dapat diketahui bahwa penerapan vaksin oral sudah dilaksanakan di Tunisia, Guatemala, Turki, Meksiko, Afrika Selatan, Srilangka, Thailand, Zimbabwe dan Philippina.

Mengenai cara aplikasi vaksin oral dengan umpan (bait) dan juga harganya tentu harus dipelajari. Mengutip WHO bahwa harga vaksin oral sedikit lebih mahal dari vaksin suntik. Suatu studi aplikasi di Philipina menceritakan bahwa sebaiknya digunakan umpan buatan lokal sehingga harga bisa ditekan. Lagipula harga dapat ditekan lebih lanjut karena  biaya operasional  rendah. Keuntungannya diberikan masal, cepat dan efisiensi waktu. Pengalaman di Philipina menyatakan bahwa dibutuhkan total waktu 13,96 menit untuk menyuntik seekor anjing, akan tetapi hanya dibutuhkan beberapa menit saja dengan pemberian oral.

Beberapa catatan tentang vaksin oral sebagai berikut:

- Vaksin oral memang adalah pendekatan baru untuk vaksinasi anjing terhadap rabies yang sejak tahun 1970an lebih banyak dipraktekkan untuk satwa liar (serigala liar) di Amerika Utara dan Eropa. WHO melakukan penelitian yang menunjukkan secara signifikan vaksin oral dapat meningkatkan cakupan vaksinasi bagi anjing-anjing yang bebas berkeliaran dan tidak mendapatkan perhatian baik diterapkan secara eksklusif maupun dikombinasikan dengan vaksinasi parenteral.

- Durasi titer antibodi vaksin oral dan studi tantang sudah dibuktikan di laboratorium maupun di lapangan.

- Pilihan strategi vaksinasi dengan vaksin oral bergantung kepada faktor-faktor seperti:

+ proporsi anjing berpemilik dibandingkan dengan keseluruhan populasi anjing dan tingkat keliaran mulai dari liar terbatas sampai dengan liar permanen;

+ proporsi anjing tak berpemilik dan di habitat mana populasi tersebut hidup. Data Agung Putra menyatakan 70% populasi anjing di Bali berpemilik tetapi dibiarkan berkeliaran di jalanan, 25% anjing rumahan dan 5% benar-benar liar (bisa ditemukan di hutan); dan

+ perkembangbiakan (turn-over) populasi anjing per tahun, sehingga frekuensi vaksinasi parenteral dan/atau vaksin oral dapat ditentukan. Data Agung Putra menyatakan populasi anjing betina subur/fertil sebanyak 19% dari populasi keseluruhan atau 62% dari populasi betina.

Jadi penggunaan vaksin oral harus dipertimbangkan dengan melihat persentase populasi anjing yang dapat diakses dengan vaksinasi parenteral dibandingkan dengan vaksin oral, besaran populasi anjing dan logistik yang dikaitkan dengan kemudahan transportasi, pergerakan dan jumlah tim vaksinator, umpan dan suplai lainnya yang dibutuhkan untuk menentukan efektivitas vaksinasi, baik parenteral maupun vaksin oral atau kombinasi.

Perlu juga diingatkan bahwa setiap cara vaksinasi punya kelemahan sendiri, begitu juga vaksin oral. Kecelakaan akibat umpan termakan atau mencemari hewan lain atau manusia pada umumnya disebabkan oleh prosedur yang kurang benar atau lengah. Dalam hal ini diperlukan transparansi dalam plelaksanaan, sehingga setiap orang bisa menyadari dan belajar dari kecelakaan yang terjadi pada orang lain, sekecil apapun. Umpan berisi vaksin bisa membahayakan manusia kalau lengah, tapi manusia memiliki kepandaian untuk mengurangi atau meminimalkan kesalahan.

Jadi dari awal, sudah disampaikan tentang pentingnya membarengi penggunaan vaksin oral dengan komunikasi risiko. Penelitian vaksin oral di China menunjukkan dari 96 ekor anjing yang diberi umpan vaksin, 90 ekor memakannya, 79 (87,8%) diantaranya membentuk neutralisasi antibodi dan 72 (80,0%) menunjukkan antibodi protektif yang bertahan sampai 2 tahun. Kesimpulan penelitian China mengatakan bahwa vaksin oral adalah suatu cara baru, aman dan efektif, penggunaan dengan umpan mudah dan sangat berguna, serta punya masa kekebalan yang cukup lama.

[Disarikan dari email yang diposting oleh Tri Satya Putri Naipospos di milis ‘dokter hewan’ pada bulan November 2009]

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday33
mod_vvisit_counterYesterday17
mod_vvisit_counterThis week33
mod_vvisit_counterLast week165
mod_vvisit_counterThis month127
mod_vvisit_counterLast month674
mod_vvisit_counterAll days3628

We have: 29 guests online
Your IP: 38.107.191.99
 , 
Today: Sep 05, 2010

Link

Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies